Artikel ini diterjemahkan karena termotivasi pada salah satu mata kuliah di fakultas psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang membincangkan tentang malpraktek. tentu saja dalam masalah psikolog dan pasien adalah permasalahan kode etik akan tetapi ketika psikolog itu dituntut maka permasalahan sudah melangkah ke arah hukum pidana. Ketika melakukan surfing ke beberapa situs psikologi saya menemukan artikel menarik tentang malpraktek. berikut hasil terjemahannya; mudah-mudahan dapat membantu dan memberikan setitik pemahaman.
--------------article start-----------------------
Penelitian ini dilakukan di Universitas Vanderbilt. Penelitian tentang hubungan antara kemampuan interpersonal dan frekuensi kemungkinan seorang ahli jiwa dituntut atas tuduhan malpraktek. Hasil dari studi pada wanita di Florida dan frekwensi tingkat kepuasan dengan Psikolog mereka; dimana kebanyakan Psikolog yang dituntut memiliki permasalahan dengan kemampuan interpersonal; kebutuhan akan hubungan baik antara psikolog - pasien.
Oleh : Psychology Today Staff
Kenapa mayoritas orang yang terluka akibat kelalaian pengobatan tidak menuntut dengan tuduhan malpraktek?
hal itu terjadi karena kemampuan interpersonal, ungkap seorang peneliti dari Universitas Vanderbilt.
Mereka telah mewawancarai 963 wanita Florida tentang tingkat kepuasan dengan pemeriksaan dokter ahli kandungan mereka, tidak ada satupun yang telah menuntut karena malpraktek. Psikolog, sementara ini, dibagi menjadi empat grup, dilihat dari frekuensi seringnya mereka dituntut.
Beberapa ahli, yang tidak tahu mereka dikelompokan di grup yang mana, menguji dengan cacatan medis sebagai petunjuk untuk membandingkan. Para ahli tersebut tidak dapat menemukan perbedaan kualitas perawatan diantara Psikolog yang jarang dituntut dan seringkali dituntut, bahkan ketika ditanyakan untuk melihat psikolog dalam bertanya.
"Kami menemukan perbedaan mendalam diantara grup dalam hal hubungan psikolog dan pasien, lapor Gerald Hickson, M.D., dalam jurnal American Medical Association. Psikolog yang telah sering dituntut memiliki lebih banyak komplain dari para wanita ketimbang psikolog yang jarang dituntut. singkatnya, wanita ini merasa mereka ditekan atau diacuhkan ketika mereka berkunjung, atau pertanyaan-pertanyaan mereka tidak dijawab.
"hanya saja hal ini tidak ada dalam pikiran sang psikolog untuk memberikan perhatian lebih pada hubungan psikolog dan pasien," kata Hickson. Sangat jelas sekali hal ini datang kembali menghantui mereka.
Katakan jika seorang anak lahir dengan kondisi kesehatan yang tidak dapat dijelaskan. Anggota keluarga datang untuk bertanya ternyata diacuhkan cenderung untuk mempertanyakan kembali kemampuan ahli kandungan mereka (di pengadilan).
"Tragedi yang ada ternyata psikolog yang mendapat banyak keluhan tidak mengerti kenapa," Hickson berkomentar. Dia menunjukan sistem review yang terlihat tidak hanya seperti sekumpulan keluhan, akan tetapi pola dari keluhan -- dan memberikan psikolog tersebut masukan dalam hal kemampuan interpersonal.
Hickson berpikir semuanya akan semakin baik. "Sekolah pengobatan akhirnya mengerti bahwa hubungan yang baik antara dokter dan pasien dapat mengurangi efek tuntutan malpraktek.
------- article ends-------------------
translated from:
Psychology Today, May/Jun 95
Article ID: 1313
Translated by:
Pandi Merdeka Nurdiansyah
Thursday, April 3, 2008
Yang kasar yang dituntut!
Labels:
artikel,
for your information,
insight,
malpraktek
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
thanks
Post a Comment