Sunday, March 1, 2009

Anang; Melewati Berbagai Perubahan

Hijrah menjalani hidup ke Jakarta memang tak selalu mudah, walau hanya sebatas menuntut ilmu. Terlebih bagi yang kurang memiliki modal banyak atau tak ada jaminan bulanan dari orang tua. Berbagai rencana, harapan dan angan-angan yang telah tersusun rapih, lengkap dengan plan A, B hingga C kadang berantakan diterpa keadaan dan situasi.

Peras otak, banting tenaga harus beriringan. Semua demi mencapai cita-cita di satu sisi, dan mengisi perut di sisi lain. Di lain sisi lagi, mungkin harus ikut aktif dalam berbagai kegiatan organisasi agar tak menjadi mahasiswa kupu-kupu yang tak bersayap. Katanya sih, agar setelah lulus banyak kenalan yang bisa ngejamin kerja kita nanti.

Tak sedikit, pekerjaan yang enggan berkompromi dengan kuliah atau organisasi. Bagi yang berada di jalur ini, jamu pahit kadang harus ditelan, meskipun tak mau. Banyak cara dan ragam mahasiswa untuk mempertahankan hidup dan demi memeroleh selemabar kertas ijazah. Ada yang menjadi surveyor, ada yang jualan bakso, koran, kertas bekas, memulung sampah dan sebagainya.

Dari puluhan ribu mahasiswa, Anang adalah salah-satu mahasiswa yang menjalani pahitnya perjuangan hidup mahasiswa dengan penuh warna. Ia hijrah dari kampong halamannya di Pemalang Jawa Tengah, sejak 1998 lalu. Di tahun pecahnya reformasi itu pula ia tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Psikologi UIN Jakarta.

Feature Selengkapnya ...

0 comments:

Post a Comment